Minggu, 10 Juni 2012

Buku Hindu 4




Senantiasa bersimpuh luluh dihadapan Tuhan Yang Maha Kuasa dengan segala puja dan puji bagi-Nya, akhirnya atas waranugraha-Nya buku kecil ini bisa kami selesaikan tanpa hambatan yang berarti. Buku ini menyangkut "Budi Pekerti" yang membicarakan Hati Nurani yang kini tidak banyak disinggung lagi dalam dunia pendidikan.
Para Guru dan Orang Tua sangat mendambakan pelajaran "Budi Pekerti" diperhatikan pemerintah dengan harapan diajarkan kembali seperti dulu di sekolah-sekolah dalam tingkat apapun.
Beberapa informasi bahwa pelajaran "Budi Pekerti" akan diajarkan di sekolah, banyak kita dengar dari media masa, tetapi hingga kini merupakan informasi hampa yang ternyata tidak kunjung tiba juga.
Karakter bangsa Indonesia dahulu sekitar tahun 50-an ke belakang banyak dilandasi oleh ajaran budi pekerti yang ternyata pada umumnya warga bangsa ini telah bermoral, berkarakter baik, berbudi luhur, penuh dengan perhatian positif memperlakukan dirinya baik terhadap masyarakat maupun bangsa dan negara. Namun kini dapat kita rasakan bahwa moral dan karakter bangsa ini telah terpuruk, terjadi kemerosotan (dekadensi moral) yang luar biasa. Kondisi ini secara jelas ditandai dengan merosotnya kegotongroyongan, kebersamaan, peraturan, pola pikir dan pola tindak tanpa rasa kasih sayang, senantiasa mementingkan diri sendiri, sulit berkorban demi orang lain, norma-norma hukum, agama dan sosial telah banyak dilanggar demi kepentingan duniawi. Kepentingan pengembangan Hati Nurani sudah tidak punya gaya tarik lagi sehingga hanya materialistik yang senantiasa dipikirkan.
Dampak dari keinginan duniawi yang tak terkendali sulit menumbuhkan rasa tenang, tentram, damai dan bahagia. Namun justru rasa gelisah, stres dan carut marutnya keadaan baik di kalangan masyarakat maupun dalam pemerintahan.
Dilatar belakangi situasi dan kondisi seperti itulah, maka kemudian kita patut merenung yang mendalam, apa kiranya yang dapat menjadi obat mujarab dengan berangsur-angsur dapat menyembuhkan penyakit-penyakit kronis yang telah dialami oleh masyarakat bangsa ini. 
Alternatif yang utama disamping upaya-upaya kongkrit lainnya, kiranya aspek mental spiritual, moral dan hati nurani yang perlu ditangani secara komprehensif, konsisten dan bertanggung jawab melalui pembinaan, bimbingan, pelatihan dan pengajaran suatu falsafah bangsa sendiri yaitu "Budi Pekerti".
Budi pekerti merupakan budaya luhur ciptaan bangsa sendiri yang berakar dari falsafah Pancasila merupakan kepribadian Bangsa Indonesia yang justru bisa membawa bangsa ini ke arah keluhuran budi, keutamaan dan kemulyaan, kini telah dilupakan dan bahkan ditinggalkan.
Berkaitan dengan hal tersebut, kami merasa terpanggil, walaupun sekecil apapun ingin menyumbangkan pemikiran demi negara tercinta ini. Dengan segala kerendahan hati memberanikan diri untuk mempersembahkan karya kecil dan sederhana ini dalam bentuk buku yang bernuansa ajaran "Budi Pekerti". 
Kiranya buku ini cocok dibaca masyarakat, terutama bagi para guru dan orang tua yang bisa digunakan membina, membimbing dan mengajarkan anak/anak didik disegala tingkatan sekolah maupun dirumah.
Buku ini dengan penggakuan yang jujur dan tulus, terasa masih banayak kekurangannya. Oleh karena itu tegur sapa, saran maupun koreksi dan kritik yang konstruktif sangat kami terima dengan tangan terbuka demi penyempurnaannya.
Buku ini tidak akan terwujud dan beredar di masyarakat jika tidak ada pengorbanan dari pihak-pihak tertentu yang ikut membantunya. Oleh karena itu kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang berpartisipasi dan berkontribusi atas terwujudnya buku ini. Terutama kami uacapkan terima kasih kepada Bapak I Wayan Yasa, S.Ag selaku Direktur UD. Paramita Surabaya yang berkenan menerbitkan dan menyebarluaskan keberadaan buku ini.
Semoga atas waranugraha Tuhan Yang Maha Kuasa sekecil apapun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar