Senantiasa bersimpuh luluh dihadapan Tuhan Yang Maha Kuasa dengan
segala puja dan puji bagi-Nya, akhirnya atas waranugraha-Nya buku kecil
ini bisa kami selesaikan tanpa hambatan yang berarti. Buku ini
menyangkut "Budi Pekerti" yang membicarakan Hati Nurani yang kini tidak
banyak disinggung lagi dalam dunia pendidikan.
Para Guru dan Orang Tua sangat mendambakan pelajaran "Budi Pekerti"
diperhatikan pemerintah dengan harapan diajarkan kembali seperti dulu di
sekolah-sekolah dalam tingkat apapun.
Beberapa informasi bahwa pelajaran "Budi Pekerti" akan diajarkan di
sekolah, banyak kita dengar dari media masa, tetapi hingga kini
merupakan informasi hampa yang ternyata tidak kunjung tiba juga.
Karakter bangsa Indonesia dahulu sekitar tahun 50-an ke belakang banyak
dilandasi oleh ajaran budi pekerti yang ternyata pada umumnya warga
bangsa ini telah bermoral, berkarakter baik, berbudi luhur, penuh dengan
perhatian positif memperlakukan dirinya baik terhadap masyarakat maupun
bangsa dan negara. Namun kini dapat kita rasakan bahwa moral dan
karakter bangsa ini telah terpuruk, terjadi kemerosotan (dekadensi
moral) yang luar biasa. Kondisi ini secara jelas ditandai dengan
merosotnya kegotongroyongan, kebersamaan, peraturan, pola pikir dan pola
tindak tanpa rasa kasih sayang, senantiasa mementingkan diri sendiri,
sulit berkorban demi orang lain, norma-norma hukum, agama dan sosial
telah banyak dilanggar demi kepentingan duniawi. Kepentingan
pengembangan Hati Nurani sudah tidak punya gaya tarik lagi sehingga
hanya materialistik yang senantiasa dipikirkan.
Dampak dari keinginan duniawi yang tak terkendali sulit menumbuhkan
rasa tenang, tentram, damai dan bahagia. Namun justru rasa gelisah,
stres dan carut marutnya keadaan baik di kalangan masyarakat maupun
dalam pemerintahan.
Dilatar belakangi situasi dan kondisi seperti itulah, maka kemudian
kita patut merenung yang mendalam, apa kiranya yang dapat menjadi obat
mujarab dengan berangsur-angsur dapat menyembuhkan penyakit-penyakit
kronis yang telah dialami oleh masyarakat bangsa ini.
Alternatif yang utama disamping upaya-upaya kongkrit lainnya, kiranya
aspek mental spiritual, moral dan hati nurani yang perlu ditangani
secara komprehensif, konsisten dan bertanggung jawab melalui pembinaan,
bimbingan, pelatihan dan pengajaran suatu falsafah bangsa sendiri yaitu
"Budi Pekerti".
Budi pekerti merupakan budaya luhur ciptaan bangsa sendiri yang berakar
dari falsafah Pancasila merupakan kepribadian Bangsa Indonesia yang
justru bisa membawa bangsa ini ke arah keluhuran budi, keutamaan dan
kemulyaan, kini telah dilupakan dan bahkan ditinggalkan.
Berkaitan dengan hal tersebut, kami merasa terpanggil, walaupun sekecil
apapun ingin menyumbangkan pemikiran demi negara tercinta ini. Dengan
segala kerendahan hati memberanikan diri untuk mempersembahkan karya
kecil dan sederhana ini dalam bentuk buku yang bernuansa ajaran "Budi
Pekerti".
Kiranya buku ini cocok dibaca masyarakat, terutama bagi para guru dan
orang tua yang bisa digunakan membina, membimbing dan mengajarkan
anak/anak didik disegala tingkatan sekolah maupun dirumah.
Buku ini dengan penggakuan yang jujur dan tulus, terasa masih banayak
kekurangannya. Oleh karena itu tegur sapa, saran maupun koreksi dan
kritik yang konstruktif sangat kami terima dengan tangan terbuka demi
penyempurnaannya.
Buku ini tidak akan terwujud dan beredar di masyarakat jika tidak ada
pengorbanan dari pihak-pihak tertentu yang ikut membantunya. Oleh karena
itu kami sangat berterima kasih kepada semua pihak yang berpartisipasi
dan berkontribusi atas terwujudnya buku ini. Terutama kami uacapkan
terima kasih kepada Bapak I Wayan Yasa, S.Ag selaku Direktur UD.
Paramita Surabaya yang berkenan menerbitkan dan menyebarluaskan
keberadaan buku ini.
Semoga atas waranugraha Tuhan Yang Maha Kuasa sekecil apapun
Tidak ada komentar:
Posting Komentar